Ruang Kelas atau Ring Tinju AI?
Sejak peradaban Tiongkok kuno mempunyai bentuk pendidikan formal di Dinasti Xia sekitar
tahun 2070 SM hingga reformasi sekolah modern yang dipelopori oleh Horace Mann pada tahun 1837
di Amerika, manusia selalu menunjukkan kesadaran akan kelebihannya dibanding makhluk lain yaitu
akal dan kemampuan berpikir. Melalui pendidikan, manusia menularkan pengetahuan, membangun
peradaban, dan memupuk karakter. Proses belajar menjadi jalan spiritual untuk memahami dunia
sekaligus memahami diri. Namun kini, di tengah kemajuan teknologi yang kian tak terbendung, ruang
kelas tidak lagi sekadar tempat bertemunya guru dan murid. Ia telah berubah menjadi gelanggang
baru, tempat manusia dan mesin saling beradu.
Kita sebagai mahasiswa sekarang ini dituntut utuk melakukan Student Centered Learning
yang menjadikan kita sebagai pusat pembelajaran dengan harapan dapat melahirkan pemikiran-
pemikiran kritis. Namun semua itu tak selalu indah di lapangan. Saya hanya bisa menarik napas
panjang dan kadang pula sebuah senyuman getir kegelisahan. Apakah masih bisa Mahasiswa disebut
sebagai agent of change (agen perubahan) karena mereka memiliki idealisme, semangat, dan
kapasitas intelektual untuk mengidentifikasi masalah serta mendorong transformasi positif dalam
masyarakat? Jika melihat fakta di kelas yang hanya mempresentasikan makalahnya secara awut-
awutan. Mendengarkan definisi yang diperoleh dari Wikipedia dan lebih parah lagi maraknya
penggunaan AI seperti Chat GPT yang disalin mentah-mentah. Bak indomie goreng paket komplit
pake telur 3 biji, ini makin lengkap rasanya ketika yang mempresentasikan mencari materi dari AI dan
audiens yang bertanya pun juga mencari pertanyaannya dengan AI, yang kemudian dijawab dengan
menggunakan AI kembali. Begitu terus sampai jam mata kuliah habis. Ruang kelas yang seharusnya
menjadi arena berpikir kini berubah hanya menjadi lomba kecepatan mengetik prompt. Lalu masih
pantaskah ini yang dimaksud dengan menuntut ilmu karena Allah? Terlihat sangat dzalim sekali
bukan?
Efisiensi atau Kemalasan?
Fenomena ini membuat kita bertanya, “apakah efisiensi yang ditawarkan AI adalah tanda
kemajuan, atau justru bentuk baru dari kemalasan intelektual?” Di satu sisi, AI membantu mahasiswa
mencari data informasi yang begitu luas. Ia menjelaskan teori, meringkas jurnal, bahkan menyarankan
argumen dengan struktur yang rapi. Semua terasa mudah, cepat, dan efektif. Namun di sisi lain,
kemudahan ini justru mengikis kemampuan manusia untuk berjuang dalam proses belajar. Jika dulu
berpikir membutuhkan waktu dan kesabaran, kini cukup dengan satu kalimat perintah, semua jawaban
bisa didapat.
Kita hidup dalam paradoks: semakin cepat mengetahui sesuatu, semakin dangkal pemahaman
kita terhadapnya. Mahasiswa bisa menulis esai panjang tanpa pernah benar-benar memahami isinya.
Diskusi menjadi formalitas, bukan eksplorasi ide. Mereka tampak produktif di permukaan, padahal di
balik layar, proses berpikir telah digantikan oleh mesin. Akibatnya, manusia tidak lagi mengalami
pergulatan batin intelektual yang sejatinya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.
Dulu, kampus adalah tempat yang saya damba-dambakan karena ingin berada dalam satu
ruangan yang penuh dengan diskusi yang mengajak akal dan nalar dalam mencari sebuah solusi dari
permasalahan. Kini semua itu seperti mimpi di siang bolong. Aktivitas berpikir, membaca, dan
berdiskusi dipenuhi hasil kerja algoritma AI. Tradisi akademik yang lahir dari kesediaan untuk
menelusuri gagasan, mengkritisi teks, dan menulis ulang dengan bahasa sendiri. Kini, tradisi itu
perlahan pudar. Buku-buku klasik digantikan oleh hasil copy-paste dari AI. Mahasiswa tak lagi
mengutip Plato, Nietzsche, atau bahkan Pramoedya Ananta Toer karena membaca langsung karya
mereka, melainkan karena hasil pencarian cepat. Di sinilah muncul pergeseran makna belajar tidak
lagi berarti mengolah pengetahuan, tetapi mengambil pengetahuan yang sudah diolah mesin.
Hilangnya Tafakur dan Merajanya Kedangkalan Pengetahuan
Proses tafakur yang seharusnya menjadi bagian luhur dalam perjalanan intelektual berubah
menjadi tindakan mekanis copy and paste. Dalam tradisi keilmuan Islam, menuntut ilmu bukan hanya
tentang menambah informasi, melainkan juga menyucikan niat dan memperdalam makna. Ilmu adalah
amal, bukan hasil instan. Ketika refleksi digantikan oleh kecepatan, manusia kehilangan kesempatan
untuk benar-benar “mengalami” pengetahuan. Ia tahu banyak hal, tapi tidak memahami satu pun
dengan mendalam. Ruang akademik kita dipenuhi dengan teks-teks yang rapi tetapi kosong dari ruh.
Mahasiswa menulis laporan penelitian dengan struktur sempurna, namun tidak memahami maknanya.
Dulu, pengetahuan diperoleh melalui dialog batin dan proses perenungan panjang. Kini, pengetahuan
dikonsumsi seperti makanan cepat saji yang mudah dicerna, tetapi tidak menyehatkan. Kita tahu
banyak hal, tetapi hanya di permukaan. Otak penuh dengan kutipan, namun hati kosong dari
pemahaman. Dalam kondisi seperti ini, manusia tampak cerdas di luar, tetapi rapuh di dalam.
Dilema etika akedemik berbenturan dengan kemudahan teknologi
Masalahnya bukan sekadar pada teknologi, melainkan pada cara kita memperlakukan
teknologi itu. AI hanyalah alat bantu, namun cara kita memakainya mencerminkan nilai-nilai yang
kita pegang. Kini muncul dilema etika di ruang akademik, kejujuran ilmiah berbenturan dengan
kemudahan teknologi. Plagiarisme tidak lagi sederhana. Jika mahasiswa menulis dengan bantuan AI,
apakah itu karya orisinal? Apakah dosen harus melarang penggunaannya, atau mengajarkan cara
memanfaatkannya secara etis? Banyak kampus kini berada di wilayah abu-abu. Sebagian dosen
menutup mata karena hasil tugas tampak bagus, sebagian lain gelisah karena kehilangan tolok ukur
keaslian berpikir. AI menciptakan generasi baru mahasiswa yang piawai menulis, tapi tak pandai
menjelaskan isi tulisannya. Mereka tahu cara membuat argumen, tapi tidak tahu mengapa argumen itu
masuk akal. Dalam situasi ini, nilai kejujuran akademik diuji bukan oleh godaan mencontek teman,
melainkan oleh kemudahan menyalin kecerdasan buatan.
Kesadaran Marwah Belajar
Pada titik ini, kita patut menanyakan kembalipada diri kita “apa arti belajar?” Belajar yang
seharusnya menjadi latihan berpikir, bukan sekadar menghasilkan produk berpikir. Prosesnya
mengasah kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa memahami sesuatu
membutuhkan waktu yang tak sedikit. Ketika AI mengambil alih bagian ini, manusia kehilangan
dimensi spiritual dari belajar. Ia mungkin semakin pandai secara teknis, tetapi kian miskin makna di
dalam kepalanya.
Teknologi memang memudahkan hidup, tetapi ia juga bisa mengikis rasa malu dan tanggung
jawab. Dulu, mencontek adalah aib, kini dianggap kecerdikan digital. Rasa bersalah digantikan oleh
rasa bangga karena “pintar memanfaatkan AI”. Padahal, dalam setiap kemajuan teknologi seharusnya
ada keseimbangan moral yang dijaga. Kemajuan tanpa etika hanyalah bentuk lain dari kemunduran
peradaban. Di sinilah pentingnya literasi etis dalam penggunaan AI di ruang akademik. Kita tidak bisa
menolak kehadiran teknologi ini, tetapi kita bisa menentukannya, “Apakah ia menjadi alat bantu atau
pengganti akal.” Mahasiswa perlu memahami bahwa AI bukan sumber kebenaran, melainkan mitra
berpikir yang harus diarahkan dengan niat dan pengetahuan. Dosen pun perlu mengajarkan etika
digital bagaimana menulis dengan bantuan mesin tanpa kehilangan suara manusia.
Pada akhirnya, belajar adalah proses menyatukan akal, iman, dan tanggung jawab. Teknologi
boleh berkembang, tetapi manusia tidak boleh kehilangan jiwanya. AI bisa membantu kita berpikir
lebih cepat, tetapi hanya manusia yang bisa berpikir dengan hati. Maka, jika ruang kelas kini menjadi
ring tinju antara manusia dan mesin, biarlah manusia menang bukan karena kecerdasan buatan,
melainkan karena kebijaksanaan yang sejati.
Kontributor: Cahya Putra Alim
Seorang mahasiswa aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syekh Wasil Kediri. Untuk mengenal lebih jauh tentang penulis dapat menghubungi e-mail putraalim571@gmail.com






0 Comments